🕺 Semua Milik Allah Dan Akan Kembali Kepadanya
Sesungguhnyaorang-orang yang ditimpa musibah dan merasa yakin bahwa kebaikan, keburukan dan segala sesuatu itu berasal dari Allah, berkata, "Diri kami ini adalah milik Allah dan kami akan kembali kepada-Nya. Untuk-Nya kami persembahkan puji syukur atas segala karunia dan kami harus bersabar jika mendapatkan ujian atau diberi pahala dan balasan."
Bagi muslim sejati, kalimat istirja' yang di ajarkan Allah dan Rasulnya adalah berbunyi "inna lillahi wa inna illahi raji'un".Kalimat tersebut mempunyai arti "Sesungguhnya kita milik Allah dan hanya kepada-Nya kita kembali". Maksudnya bahwa segala sesuatu yang ada di alam semesta ini adalah milik dan ciptaan Allah, maka kelak semuanya akan kembali kepada yang
Ibnu`Atho'. Sudahlah, kembalikan semua kepada Allah SWT. Jangan membiasakan diri mengaku sebagai pemilik semua hal. Jangan merasa apa yang ada pada kita adalah milik kita. Semua itu milik Allah. Semua alam semesta dan semua yang selain-Nya adalah ciptaan Allah dan milik-Nya. Termasuk kita dan kehidupan kita.
Karenaitu adalah suatu bentuk kepasrahan pada Allah, ketidakberdayaan kita melawan kehendak dan takdir Allahm Semuanya adalah milik Allah dan hanya kepada-Nya semua akan kembali. Kita tidak dapat mengira, memprediksi apalagi meramalkan kematian, bencana, kesusahan atau musibah yang bisa saja menimpa.
Semuamilik Allah dan semua akan kembali kepada Allah. Ia akan ditanya tentang amalnya, ilmunya, nikmat Allah yang telah diberikan kepadanya. Ia akan menjawab dengan kokoh, akhirnya nikmat kebaikan berlanjut terus untuknya. Jika ditampakkan baginya dosa, ia mengakuinya dan Allah akan menutupi serta memaafkan kesalahannya.
Semuamilik Allah dan hanya kepadaNya kita akan kembali," ujarnya. Sebagai orang tua, Presiden turut merasakan betapa beratnya perasaan dan beban yang dipikul Ridwan Kamil dan istrinya, Atalia Praratya dalam menghadapi kejadian yang menimpa putra sulungnya tersebut. Baca Juga: Ridwan Kamil: Wahai Sungai Aare, Bahagiakan Dia dalam Keindahanmu
Keberadaanseorang hamba bahwa dia milik Allah dan akan kembali kepadaNya adalah faktor terbesar yang menyebabkan tumbuhnya kesabaran. Surat Al-Baqarah ayat 156: Musibah adalah semua yang membuat hati, badan atau kedua-duanya terasa sakit atau pedih. Maksudnya: kita milik Allah, di bawah pengaturan dan tindakan-Nya, Dia berbuat kepada milik
DanDunia diumpamakan seperti makanan yang dikonsumsi oleh manusia, kemudian setelah itu menjadi kotoran. Raslullh Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya makanan anak Adam (makanan yang dimakannya) dijadikan perumpamaan terhadap dunia. Walaupun ia sudah memberinya bumbu dan garam, lihatlah menjadi apa makanan tersebut akhirnya. [5]
Fayu'adz-dzibuhullāhu (maka Allah akan Mengazabnya) di akhirat. Al-'adzābal akbar (dengan azab yang sangat dahsyat), yakni azab neraka. Inna ilainā iyābahum (sesungguhnya hanya kepada Kami-lah kembali mereka), yakni kembali mereka di akhirat. Tsumma innā 'alainā hisābahum (kemudian, sesungguhnya hanya pada Kami-lah penghisaban
Janganlupakan kami karena kalian semualah yang kami miliki sekarang. Sumbangan kalian sama sekali tidak sampai kepada kami, dan ketika Israel membuka perbatasan, sumbangan itu hanya untuk beberapa gelintir saja. Teruslah beramal karena Allah dan berdoa bahwa kemenangan akan segera datang, insyaAllah. Ummu Taqi.
Semuahamba Allah SWT yang bernyawa pasti akan kembali kepada-Nya, seperti yang sudah dijelaskan pada Ayat Allah yang berbunyi : Artinya : "Setiap yang bernyawa akan merasakan mati". Ayat diatas seringkali dijadikan sebagai ayat pengingat, ayat penasehat bagi setiap orang. Bahwa kita semua yang bernyawa pasti akan merasakan mati.
HUSK. Kalimat Innalillahi Arab dan penjelasannya sebagai lafadz terakhir untuk kembali kepada Allah. Innalillahi artinya “Sesungguhnya milik Allah” sebagai kalimat Tauhid bahwa semua yang ada di alam semesta dan isinya milik Allah. Pembaca Kartun Muslimah, Innalillahi adalah bentuk kalimat dasar bagi semua manusia terutama umat Muslim tentang kesadaran untuk memulai dalam kehidupan ini. Kalimat Innalilahi adalah sebuah pedoman hidup bagi setiap manusia dan menyadari bahwa sesungguhnya semua yang ada didunia milik Allah. Awal mula dalam kehidupan ini hanya ada Allah sendirian, dan Dia menciptakan langit, surga dan seluruh alam semesta ini bahannya diambil dari diri-Nya. Karena itulah semua ciptaan-Nya adalah bagian diri-Nya dan bahan baku dari semua makhluk berasal dari Dzat Allah sendiri. Karena itulah semua penciptaan di dunia ini berasal dari Dzat Allah yang dibagi-bagi menjadi beberapa ciptaan berupa benda dan makhluk ghaib. Ada benda ciptaan Allah yang bisa dilihat oleh mata manusia dan ada juga makhluk ghaib yang hanya bisa dilihat oleh mata batin manusia. Jika kita bisa menyadari bahwa semua yang ada di alam semesta ini adalah ciptaan Allah dan berasal dari Dzat Allah sendiri, maka kita akan lebih tenang dalam menjalani hidup. Hal ini karena kita sudah bisa menyadari bahwa semua bisa terjadi hanya karena kehendak Allah SWT. Kita juga tidak akan merasa takut dalam menjalani hidup ini karena semua makhluk yang hidup didunia ini sama-sama ciptaan Allah. Selain itu kita juga tidak pernah merasa berat dengan harta yang kita miliki, karena semua itu rumusnya Innalillahi Arab yang artinya semua milik Allah. Jika banyak umat Muslim yang sudah memiliki pedoman tersebut, maka banyak orang yang tidak akan pelit untuk membagikan hartanya dengan bersedekah atau zakat. Yang membuat banyak orang enggan bersedekah karena merasa memiliki harta tersebut dan lupa kepada Allah. Sebenarnya kalimat Innalillahi adalah pedoman utama bagi umat Muslim yang masih hidup dan bukanlah untuk orang yang meninggal saja. Kalimat ini disebut juga kalimat Istirja’ dan biasanya hanya digunakan ketika ada orang meninggal atau ketika ada orang yang mengalami musibah. Pada dasarnya kalimat Istirja’ memiliki makna cakupan yang luas sekali karena berhubungan dengan semua ciptaan Allah. Kita hanya mempersempit kalimat ini jika hanya menggunakannya untuk orang yang telah meninggal atau ditujukan kepada orang yang mengalami kecelakaan saja. Hal ini karena banyak umat Muslim terlalu berpaku pada kata musibah yang diidentikkan dengan kejadian buruk yang menimpa seseorang. Karena itulah kalimat innalillahi digunakan ketika mengalami musibah saja tanpa mau meneliti dan menggali makna kata dari musibah itu. Penggunaan kalimat Innalillahi atas terjadinya musibah memang benar sesuai dengan ayat Al Qur’an Baqarah 156. “ Yaitu Orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata Innalillahi wa inna ilaihi roji’un Sesungguhnya semua milik Allah akan kembali kepadaNya. Sebenarnya kata musibah berasal dari kata Ashaaba-Yashiibu-Mushiibatan yang artinya “Segala yang menimpa pada sesuatu baik berupa kesenangan maupun kesusahan. Memang sudah menjadi sifat umum pada manusia bahwa kesusahan lebih mudah diingat daripada kesenangan. Karena itulah banyak orang yang lupa kepada Allah ketika mendapatkan kesenangan dan ketika mendapat kesusahan lebih mudah teringat Allah. Sehingga kata musibah lebih banyak diingat ketika mendapatkan kesusahan saja dan lupa kesenangan yang juga termasuk sebagai musibah. Hal inilah yang membuat kalimat Innalillahi Arab lebih identik dengan terjadinya sesuatu yang buruk dalam kehidupan ini. Sepertinya kalimat Innalillahi sudah melekat kuat di otak dari kalangan umat Muslim dan mau menggunakannya pada peristiwa-peristiwa yang buruk saja. Penjelasan Kalimat Innalillahi Wa Inna Ilaihi Roji’un Arti kalimat Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Roji’un adalah “Semua milik Allah dan hanya akan kembali kepada Allah”. Maksud dari kalimat tersebut adalah semua yang diciptakan oleh Allah yaitu seluruh alam semesta beserta isinya ini pada akhirnya hanya akan kembali kepada Allah. Kita sebagai manusia memahaminya bahwa tidak ada tempat kembali selain kepada Allah dan ini adalah bentuk sunatullah. Manusia tidak memiliki pilihan lain kecuali untuk menyatu kembali kepada Allah dan kehidupan ini hanya sebagai ujian bagi manusia untuk menemukan Allah. Allah telah mengirimkan nabi dan rosul sebagai penyampai informasi bahwa kehidupan didunia ini hanya sebagai pencarian kepada maha pencipta. Selain itu Allah juga memberikan beberapa kitab suci sebagai tuntunan bagi manusia untuk mengetahui dan meneliti tanda-tanda dari Allah. Maksud kalimat Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Roji’un juga bisa diartikan sebagai awal dan akhir dari ujian pencarian bagi manusia didunia. Manusia hidup didunia ini seperti anggota pramuka yang sedang mencari jejak dari awal mula dirinya diciptakan dan kemana nantinya akan kembali. Manusia dibekali dengan kitab suci Al Qur’an sebagai buku panduan untuk mencari siapa yang menciptakannya dan kemana lagi setelah meninggal. Jika kita telah menemukan maha pencipta ketika hidup didunia, berarti kita telah lulus dalam menempuh ujian sebagai Ahsani Taqwim. Dalam peradaban Jawa, kita mengenal istilah “Nyawiji” atau bersatu “Manunggaling kawulo gusti” sebagai tarekat tertinggi dari ilmu Tauhid. Hal ini sebagai pertanda bahwa manusia sudah menemukan Tuhan dan dalam hatinya hanya digunakan untuk menyebut nama Allah setiap saat. Jika kita sudah mencapai puncak tertinggi dari ilmu tauhid tersebut, maka kita tidak akan tergoda pada gemerlap dan hingar bingar kemewahan dunia. Maka kita sudah mampu mencapai tingkat Ilaihi Roji’un atau kembali kepada Allah tanpa harus menunggu sampai datangnya kematian. Penggunaan Kalimat Innalillahi Wa Inna Ilaihi Roji’un Ketika Terpilih Menjadi Pemimpin Umar bin Khattab RA mengucapkan kalimat Innalilahi ketika terpilih menjadi khalifah untuk menggantikan Abu Bakar As Shiddiq RA. Hal ini karena khalifah Umar merasa diberi amanat oleh Allah untuk memimpin umat Muslim dan menganggap sebagai ujian dan tanggung jawab. Pelajaran yang bisa diambil dari pengucapan kalimat Innalillahi dari khalifah Umar RA adalah bahwa kekuasaan hanya milik Allah. Ini bukanlah musibah buruk, karena khalifah Umar RA merasa memiliki tanggung jawab untuk membebaskan daerah sekitar Arab dari jajahan Persia. Pada Saat Ada Orang Meninggal Dunia Ketika ada orang yang meninggal dunia, maka perlu mengucapkan kalimat Inna lillahi Wa Inna Ilaihi Roji’un sebagai pertanda bahwa orang tersebut kembali kepada Allah. Satu hal yang perlu diketahui bahwa kematian bukanlah akhir dalam hidup ini karena hanya kembali menuju Allah. Karena setelah kita meninggal, masih akan menunggu sampai datangnya hari kiamat untuk dibangkitkan kembali menuju padang Mashar. Selain itu, masih ada laporan pertanggung jawaban selama hidup didunia, apakah sudah menemukan Tuhannya yaitu Allah ataukah belum. Kehilangan Sesuatu Ketika kita mengalami hal yang buruk seperti orang yang hutang kepada kita tidak membayar, maka kita perlu mengucapkan kalimat Istirja’. Karena semua harta yang kita miliki adalah pemberian Allah dan tentu saja jika Allah memang berkehendak maka akan diberikan gantinya. Pada saat tidak memiliki uang dan merasa kelaparan, maka perlu mengucapkan Innalillahi Arab dan bersabar serta terus berusaha dan berdoa. Allah senantiasa akan memberikan hidayah dan jalan sehingga bisa menemukan solusi atas kesusahan yang kita alami. Syukron bahasa Arab terima kasih banyak telah menyimak artikel ini. Share jika bermanfaat.
Pada ayat-ayat sebelumnya telah diterangkan bagaimana Kuasa Allah SWT untuk menghidupkan kembali orang-orang yang telah mati dan Kuasa-Nya menciptakan langit dan bumi beserta segala isinya. Ayat terakhir ini menegaskan bahwa Allah SWT Maha Suci dari segala sifat kekurangan dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Allah SWT berfirmanفَسُبْحَانَ الَّذِي بِيَدِهِ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيْءٍ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَfasubhaana alladzii biyadihii malakuutu kulli syay’in wa ilaihi turja’ Mahasuci Allah dari segala sifat kekurangan dan keburukan yang dalam genggaman tangan-Nya kerajaan segala sesuatu dan hanya kepada-Nya kamu akan dikembalikan.” QS Yasin Ayat 83Kalimat fasubhan’ sampai kata kulli syay’in’ menurut Ibnu Jarir al-Thabari adalah bentuk penyucian tanzih Allah SWT yang dalam genggaman-Nya segala kerajaan dan segala isinya. Adapun kalimat wa ilayhi turja’uun, kata al-Thabari menunjukkan bahwa hanya kepada-Nya lah seluruh umat manusia akan dikembalikan dan dihidupkan setelah mereka seperti al-Thabari, al-Wahidi dalam Tafsir al-Wajiz menerangkan bahwa kata subhan’ pada ayat di atas adalah bentuk penyucian Allah SWT dari segala sifat ketidakkuasaan terkait dengan kebangkitan manusia setelah kematiannya. Kalimat biyadihi malakuutu kulli syay’in’ menurut al-Wahidi adalah ungkapan tentang Kemahakuasaan Allah SWT atas segala sesuatu. Sedangkan kalimat wa ilayhi turja’uun’ menegaskan bahwa di akhirat kelak semua makhluk akan kembali Fakhruddin al-Razi, pengungkapan kalimat malakuutu kulli syay’in’ adalah bentuk tanzih menyucikan/menghilangkan asumsi dari yang disangkakan orang-orang musyrik Mekah bahwa Allah SWT tidak kuasa dan memiliki sekutu. Dengan ungkapan tersebut seolah-olah dipertanyakan kembali bahwa “Bagaimana mungkin Dzat yang memiliki dan kuasa atas seluruh kerajaan mempunyai sekutu?” Adapun kata malakuut yang terdapat pada ayat di atas, dalam penafsiran al-Razi adalah kata mubalaghah’ paripurna yang mengisyaratkan bentuk paling sempurna dari kata mulk kerajaan.Sedikit berbeda dengan al-Thabari dan al-Wahidi, al-Qusyairi dalam Lathaif al-Isyarat menerangkan bahwa ayat di atas menunjukkan kekuasaan Allah SWT dalam menampakkan segala sesuatu. Tidak ada satu pun makhluk yang ada di dunia kecuali atas penciptaan-Nya. Dan tidak ada yang tersisa pada Hari Kiamat kecuali Dia. Allah SWT lah segala sumber kehidupan makhluk dan hanya kepada-Nya lah makhluk-makhluk itu akan al-Baghawi dalam Ma’alim al-Tanzil fi Ta’wil al-Quran ketika menerangkan ayat ini, mengutip riwayat dari Abu Ali al-Husain bin Muhammad al-Qadhi dari Abu al-Thahir al-Ziyadiy dari Abu Bakar bin al-Husain al-Qaththan dari Ali bin al-Husain dari Abdullah bin Utsman dari Abdullah bin al-Mubarak dari Sulaiman al-Taymiy dari Abu Utsman dari Ma’qil bin Yasar bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Bacakanlah pada orang-orang yang mati di antara kalian surat Yasin.”Sementara al-Zamakhsyari dalam al-Kasysyaf meriwayatkan hadis dari Abdullah bin Abbas bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sungguh bagi segala sesuatu terdapat hati, dan sungguh hati al-Quran adalah Yasin. Siapa yang membaca surat Yasin dan bermaksud untuk mengharap Ridha Allah SWT, maka Allah SWT akan mengampuninya dan memberikan baginya pahala yang setara dengan membaca al-Quran 22 kali. Umat muslim yang dibacakan kepadanya Surat Yasin ketika sedang menghadapi kematian, maka setiap huruf dari surat Yasin menjelma menjadi sepuluh malaikat yang berdiri dan berjejer di depannya memintakan ampun.”Dalam riwayat yang lain, menurut al-Zamakhsyari, Rasulullah SAW bersabda, “Sungguh di dalam al-Quran terdapat surat yang dapat menjadi obat penyembuh bagi orang yang membacanya dan dapat menjadi penebus dosa bagi yang mendengarkannya. Ingat! Surat itu adalah surat Yasin.”
- Bagi muslim sejati, kalimat istirja’ yang di ajarkan Allah dan Rasulnya adalah berbunyi “inna lillahi wa inna illahi raji’un”. Kalimat tersebut mempunyai arti “Sesungguhnya kita milik Allah dan hanya kepada-Nya kita kembali”. Maksudnya bahwa segala sesuatu yang ada di alam semesta ini adalah milik dan ciptaan Allah, maka kelak semuanya akan kembali kepada yang menciptakan dan yang memiliki yakni Allah swt. Kalimat istirja bisa di ucapkan pda saat seseorang sedang tertimpah musibah atau cobaan. misalnya, pada saat salah seorang diantara kita meninggal dunia atau terkena bencana, seperti tsunami, tanah longsor, banjir, terpeleset, atau hal-hal lainya. Namun berbeda dengan kalimat istirja' versi Syiah. Golongan yang mengaku-ngaku Islam ini mengubah kalimat istirja' tersebut dengan kalimat kesyirikan, yaitu انا للحسين وانا اليه راجعون Innaa Lil-Husaini Wa Innaa ilaihi Raaji'uun Arinya "Sesungguhnya kami adalah milik Al-Husain, dan kepadanya Al-Husain lah kami kembali" Berikut fakta tentang syiriknya kalimat istirja' orang-orang Syiah ************************ Ayo Gabung dengan Sekarang Juga! Artikel Syiah Lainnya
semua milik allah dan akan kembali kepadanya